Membangun Budaya Gagasan di Perguruan Tinggi: Dari Kinerja Akademik menuju Tradisi Keilmuan
← Kembali ke Artikel Ilmiah
Budaya Akademik 16 September 2026 · Suprapto Estede

Membangun Budaya Gagasan di Perguruan Tinggi: Dari Kinerja Akademik menuju Tradisi Keilmuan

← Kembali ke Artikel Ilmiah

Membangun Budaya Gagasan di Perguruan Tinggi: Dari Kinerja Akademik menuju Tradisi Keilmuan

Budaya Akademik 16 September 2026 · Ditulis oleh Suprapto Estede
Membangun Budaya Gagasan di Perguruan Tinggi: Dari Kinerja Akademik menuju Tradisi Keilmuan

Informasi Penulis

Penulis
Suprapto Estede
Tanggal Publikasi
16 September 2026
Kategori
Budaya Akademik

Di banyak kampus, produktivitas menulis masih kerap meningkat hanya ketika mendekati pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD), lalu kembali menurun setelah kewajiban administratif terpenuhi.

PERGURUAN tinggi tidak pernah kekurangan pengetahuan. Setiap hari dosen mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, berdiskusi, dan juga berinteraksi dengan berbagai persoalan masyarakat. Ironisnya, kekayaan pengalaman tersebut tidak selalu bertransformasi menjadi tulisan yang dapat diwariskan kepada publik.
Fenomena ini tidak menunjukkan bahwa dosen miskin gagasan. Sebaliknya, ia mengisyaratkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu belum mengakarnya budaya menulis sebagai tradisi keilmuan. Tantangan perguruan tinggi hari ini bukan sekadar meningkatkan jumlah publikasi, melainkan membangun ekosistem yang menjadikan menulis sebagai bagian alami dari kehidupan akademik.
Menulis sebagai Identitas Akademik
Seorang dosen sesungguhnya menjalankan tiga peran utama, yaitu: mengembangkan ilmu, mentransmisikan ilmu, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Ketiga peran tersebut menemukan bentuk paling lestari melalui tulisan.
Ernest L. Boyer, dalam karya monumentalnya Scholarship Reconsidered (1990), mengingatkan bahwa makna seorang sarjana perlu dipahami secara lebih luas. Menurut Boyer, kegiatan akademik tidak hanya berupa penelitian untuk menemukan pengetahuan baru (scholarship of discovery), tetapi juga mencakup integrasi pengetahuan, penerapan ilmu dalam kehidupan nyata, serta pengembangan pembelajaran (scholarship of teaching and learning) (Boyer, 1990).
Pandangan tersebut sangat relevan bagi perguruan tinggi Indonesia. Seorang dosen tidak harus menunggu penelitian besar untuk mulai menulis. Pengalaman mengajar, refleksi terhadap praktik pembelajaran, hasil pengabdian kepada masyarakat, maupun analisis persoalan lokal dapat menjadi karya ilmiah yang bernilai.
Dengan demikian, produktivitas akademik bukan sekadar persoalan jumlah artikel. Ini lebih kepada persoalan kemampuan mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari orang lain.
Dari Budaya Laporan menuju Budaya Kontribusi
Sistem BKD jelas memiliki fungsi penting sebagai instrumen akuntabilitas tridarma. Persoalannya di sini bukan terletak pada keberadaan BKD-nya, melainkan pada orientasi yang terkadang bergeser. Ketika publikasi dipandang terutama sebagai syarat administrasi, maka motivasi intrinsik untuk berbagi pengetahuan dapat melemah.
Boyer bahkan mengkritik kecenderungan budaya akademik yang terlalu didominasi semangat publish or perish, yaitu kondisi ketika publikasi lebih diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan individu daripada sebagai kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan masyarakat.
Perubahan paradigma menjadi penting. Perguruan tinggi (dalam hal ini terutama dosen) perlu bergerak dari sekadar berfikir tentang “apa yang harus saya tulis agar BKD terpenuhi?” menjadi berfikir yang lebih fundamental: “gagasan apa yang layak saya sumbangkan kepada ilmu pengetahuan dan masyarakat?”
Perubahan mindset tersebut akan mengubah cara dosen memandang aktivitas menulis.
Ekosistem yang Melahirkan Penulis
Produktivitas menulis jarang lahir dari motivasi individual semata. Ia lebih mudah tumbuh dalam lingkungan yang mendukung. Kampus yang berhasil membangun budaya akademik biasanya memiliki ruang diskusi rutin, kelompok penulis, pendampingan publikasi, pembacaan sejawat, hingga apresiasi terhadap karya ilmiah.
Bahkan tulisan ilmiah populer di media kampus memiliki peran strategis. Artikel semacam ini menjadi jembatan antara bahasa akademik dengan kebutuhan masyarakat. Kampus tentu tidak cukup hanya berbicara kepada sesama akademisi. Kampus juga harus hadir sebagai pusat pemikiran yang menjawab persoalan publik, terutama persoalan yang dihadapi oleh masyarakat lokal dan pemerintah setempat.
Di STIEKIA, pengembangan budaya akademik itu bukannya belum ada. Di kampus biru yang punya semboyan “berani maju semakin cerdas” itu sudah lama ada jurnal ilmiah “JUMPA”, sudah ada penerbitan secara berkala buku kolaborasi para dosen, dan ada pula dipublikasikan ruang “Artikel Ilmiah Populer” di web kampus, meski terasa masih miskin tulisan. Mungkin, masih terdapat hal-hal terkait yang perlu perhatian. Mungkin sebagian besar dosen aktif masih banyak terbebani oleh tugas-tugas struktural, serta budaya menulis yang masih perlu lebih dikondisikan sebagai salah satu peran utama dosen dalam mengembangkan gagasan, bukan sekadar mengejar target pemenuhan beban kerja.
Bagi STIEKIA, peluang pengembangan tersebut sangat terbuka. Berbagai persoalan manajemen dan akuntansi, isu-isu ekonomi daerah, kewirausahaan, koperasi, UMKM, transformasi digital, tata kelola organisasi, hingga pengembangan sumber daya manusia di Bojonegoro, semuanya dapat menjadi laboratorium gagasan yang dapat terus menerus menghasilkan tulisan dan membangun tradisi keilmuan yang kaya manfaat.
Perspektif Islam: Ilmu yang Diabadikan
Tradisi menulis memiliki akar yang kuat dalam peradaban Islam. Wahyu pertama dimulai dengan perintah membaca (QS. Al-'Alaq: 1–5), kemudian Allah berfirman: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1)
Pena dalam ayat tersebut bukan sekadar alat, melainkan simbol keberlanjutan ilmu. Apa yang dituliskan memiliki kesempatan dapat melampaui usia penulisnya.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Dalam budaya akademik, manfaat itu dapat diwujudkan melalui tulisan yang memperkaya pengetahuan, memperbaiki praktik pendidikan, dan memberi solusi atas persoalan masyarakat.
Ali bin Abi Thalib RA juga menegaskan anjuran untuk mencatat setiap ilmu yang didapat agar tetap kuat dalam ingatan: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Ungkapan ini sejalan dengan pandangan bahwa daya ingat manusia memiliki keterbatasan, sehingga tulisan menjadi pengaman terbaik terhadap ilmu yang telah dipelajari.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali juga memberikan motivasi yang sangat terkenal mengenai keabadian sebuah karya tulis. Beliau pernah berkata: “Jika kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” Pernyataan ini bermakna bahwa melalui tulisan, nama seseorang akan tetap hidup dan dikenang abadi oleh sejarah meskipun ia telah tiada.
Pandangan umum Ulama juga mengatakan bahwa tulisan dapat menjaga dari lupa, menjadi warisan peradaban (warisan kemaslahatan dan ilmu bagi generasi penerus), sekaligus juga sebagai media perjuangan, yakni sebagai amal jariyah dan bentuk dakwah nyata yang pahalanya terus mengalir selama karya tersebut dibaca dan memberi manfaat.
Penutup
Perguruan tinggi akan tetap memiliki gedung, kurikulum, dan sistem administrasi. Namun, ruh sebuah kampus terletak pada gagasan yang terus lahir dari para dosennya. BKD tetap diperlukan sebagai alat pengelolaan kinerja. Akan tetapi, laporan kinerja seharusnya menjadi jejak dari produktivitas intelektual, bukan tujuan akhirnya.
Budaya akademik yang matang ditandai oleh dosen yang tidak menunggu tenggat untuk menulis, melainkan menjadikan setiap pengalaman mengajar, penelitian, dan pengabdian sebagai benih gagasan yang layak diwariskan.
Dengan demikian, kampus yang besar bukanlah kampus yang hanya banyak menghasilkan laporan. Kampus yang “berani maju semakin cerdas” adalah kampus yang terus membangun budaya intelektual yang melahirkan pemikiran, melahirkan gagasan.
Suprapto Estede, editor buku kolaborasi dosen dan lektor kepala di STIEKIA.

Referensi

Boyer, E.L., 1990. Scholarship Reconsidered: Priorities of the Professoriate. Princeton, NJ: Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching.
Wendling, L., 2020. Valuing the Engaged Work of the Professoriate: Reflections on Ernest Boyer's Scholarship Reconsidered. Journal of the Scholarship of Teaching and Learning, 20(2), pp.127–142.
Al-Qur'an al-Karim. QS. Al-'Alaq: 1–5; QS. Al-Qalam: 1.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

ID EN

STIEKIA Assistant

Siap membantu Anda